PENILAIAN
AFEKTIF
A.
Pengertian Ranah Afektif
dalam Penilaian
Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai.
Sikap merupakan konsep psikologis yang kompleks, sikap berakar dalam perasaan.
Anastasi mendefenisikan sikap sebagai kecenderungan untuk bertindak secara suka
atau tidak suka terhadap sesuatu objek. Sikap merupakan kumpulan hasil evaluasi seseorang terhadap objek, orang atau masalah
tertentu. Sikap menentukan bagaimana keperibadian seseorang diekspresikan. Oleh karena itu, melalui sikap seseorang kita dapat mengenal siapa orang
itu sebenarnya.[3]
Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai.
Beberapa ahli mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya,
bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Penilaian
hasil belajar afektif kurang mendapat perhatian dari guru. Para guru lebih
banyak menilai ranah kognitif semata-mata. Tipe hasil penilaian afektif tampak
pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran,
disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan
belajar, dan hubungan sosial.[4]
Ranah afektif harus menjadi bagian integral dari
bahan tersebut dan harus tampak dalam proses belajar dan hasil belajar yang
dicapai oleh siswa, sekalipun bahan pelajaran berisi ranah
kognitif,.[5]
Kawasan
afektif yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek emosional seperti
perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. Di dalamnya
mencakup penerimaan (receiving/attending), sambutan(responding),
tata nilai (valuing), pengorganisasian (organization), dan
karakterisasi (characterization).[6]
Aspek yang dinilai dalam penilaian efektif yakni sejauh mana peserta didik mampu menginternalisasikan nilai-nilai pembelajaran ke dalam
dirinya. Aspek afektif ini erat kaitannya dengan tata nilai dan konsep diri.
Dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, aqidah akhlak merupakan salah satu
pelajaran yang tidak terpisahkan dari domain/aspek afektif.[7]
B. Cara Pengklasifikasian
Ranah Afektif
Penilaian
afektif (sikap) sangat menentukan keberhasilan peserta didik untuk mencapai
ketuntasan dan keberhasilan dalam pembelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan.[8]
Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, merupakan salah satu indikator
keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Rencana
pembelajaran hasus dibuat oleh guru untuk mengetahui sikap peserta didik
terhadap mata pelajaran lebih positif atau mengarah ke negatif.
Seorang
peserta didik yang tidak memiliki minat terhadap mata pelajaran tertentu, maka
akan kesulitan untuk mencapai ketuntasan belajar secara maksimal. Sedangkan
peserta didik yang memiliki minat terhadap mata pelajaran, maka akan sangat
membantu untuk mencapai ketuntasan pembelajaran secara maksimal.[9]
Hasil belajar ini akan mampu diperhatikan dalam pembelajaran di kelas
karena siswa yang memilki minat akan memerhatikan pelajaran sedangkan yang
kurang memiliki minat akan enggan memerhatikan pelajaran.[10]
Secara
umum aspek afektif yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran terhadap
berbagai mata pelajaran mencakup penilaian
sikap terhadap materi pembelajaran, terhadap guru, terhadap proses
pembelajaran, terhadap nilai dan norma, serta terhadap kompetensi aktif lintas
kurikulum.[11]
1.
Penilaian Sikap terhadap Materi Pelajaran
Berawal dari sikap positif terhadap mata
pelajaran akan melahirkan minat belajar, kemudian mudah diberi motivasi serta
lebih mudah dalam menyerap materi pelajaran.
2.
Penilaian Sikap terhadap Guru
Peserta didik perlu memilki sikap positif
terhadap guru, sehingga ia mudah menyerap materi yang diajarkan oleh guru.
3.
Penilaian Sikap terhadap Proses
Pembelajaran
Peserta didik perlu memiliki sikap positif
terhadap proses pembelajaran, sehingga pencapaian hasil belajar bisa maksimal.
Hal ini kembali kepada guru untuk pandai-pandai mencari metode yang kira-kira
dapat merangsang peserta didik untuk belajar serta tidak merasa jenuh.
4.
Penilaian Sikap yang Berkaitan dengan Nilai atau Norma yang Berhubungan dengan Suatu Materi
Pelajaran
Peserta didik mempunyai sikap positif
terhadap upaya sekolah melestarikan lingkungan dengan mengadakan program
penghijauan sekolah.
5.
Penilaian Sikap yang Berkaitan dengan Kompetensi Afektif
Lintas Kurikulum yang Relevan dengan Mata Pelajaran
Peserta didik memiliki sikap positif
terhadap berbagai kompetensi setiap kurikulum yang terus mengalami perkembangan
sesuai dengan kebutuhan.
C. Tingkat Penilaian
Afektif
Pengukuran ranah afektif meliputi lima
jenjang kemampuan, yakni tingkat receiving, tingkat responding, tingkat valuing, tingkat
organization, dan tingkat characterization[12].
1.
Tingkat Receiving
Tingkat receiving atau attending adalah tingkatan pertamapenilaian afektif dimana
peserta didik memiliki keinginan memperhatikan suatu fenomena khusus atau
stimulus tertentu. Tugas pendidik adalah mengarahkan perhatian peserta didik pada
fenomena tertentu yang positif,
misalnya mengarahkan agar peserta didik senang membaca
buku, senang bekerjasama, dsb.
2.
Tingkat Responding
Responding merupakan partisipasi aktif peserta didik, yaitu sebagai bagian
dari perilakunya. Peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena khusus tetapi
ia juga sudah memberikan reaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan pada
pemerolehan respons, berkeinginan memberi respons, atau kepuasan dalam memberi
respons. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal
yang menekankan pada pencarian kesenangan terhadap sesuatu objek atau aktivitas yg khusus. Misalnya:
senang membaca buku, senang
bertanya, senang membantu teman, senang dengan kebersihan dan kerapian, dan
sebagainya.
3.
Tingkat Valuing
Valuing melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan
derajat internalisasi dan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari menerima
suatu nilai, sampai pada tingkat komitmen.Valuing
atau penilaian didasarkan pada internalisasi dari seperangkat nilai yang
spesifik. Hasil belajar pada tingkat ini berhubungan dengan perilaku yang
konsisten dan stabil berkaitan dgn nilai yg dianut. Penilaian ini diklasifikasikan sebagai sikap dan
apresiasi dalam tujuan pembelajaran,.
4.
Tingkat Organization
Pada tingkat organization,
nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai diselesaikan, dan
mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten. Hasil pembelajaran pada
tingkat ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi sistem nilai.
Misalnya, pengembangan falsafah hidup seseorang.
5.
Tingkat Characterization
Tingkat ranah afektif tertinggi
adalah karakterisasi (characterization)
nilai. Pada tingkat ini peserta didik memiliki sistem nilai yg menjadi
karakter dirinya, yang akan mengendalikan semua perilaku sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Hasil
pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan karakter pribadi, emosi, dan
sikap sosial.
D. Model-Model
Penilaian Sikap (Penilaian Afektif)
Manusia mempunyai sifat
bawaan, misalnya: kecerdasan, temperamen, dan sebagainya. Faktor-faktor ini
memberi pengaruh terhadap pembentukan sikap. Selain itu, manusia juga mempunyai
sikap warisan, yang terbentuk dengan kuat dalam keluarga. Misalnya sentimen golongan, keagamaan, dan
sebagainya. Namun secara umum, para pakar psikologi sosial berpendapat bahwa
sikap manusia terbentuk melalui proses pembelajaran dan pengalaman.[13]
Model
belajar dalam rangka pembentukan sikap terbagi menjadi 3, yaitu model
menamati dan meniru, model menerima penguatan dan model menerima informasi
verbal[14]. Model-model ini sesuai dengan kepentingan penerapan dalam dunia
pendidikan.
·
Mengamati dan meniru,
pembelajaran model ini berlangsung pengamatan dan peniruan melalui model (learning through modeling). Tingkah laku
manusia dipelajari dengan mengamati dan meniru tingkah laku atau perbuatan
orang lain terutama orang-orang yang berpengaruh.
·
Menerima penguatan, penguatan
dapat berupa ganjaran (penguatan positif) dan dapat berupa penguatan hukuman
(penguatan negatif). Dalam proses pendidikan, guru atau orangtua dapat
memberikan ganjaran berupa pujian atau hadiah kepada anak yang berbuat sesuai
dengan nilai-nilai tertentu. Dari waktu ke waktu respon yang diberi ganjaran
tersebut bertambah kuat.
·
Menerima informasi verbal,
informasi tentang berbagai hal dapat diperoleh melalui lisan atau tulisan.
Informasi tentang objek tertentu yang diperoleh oleh seseorang akan
mempengaruhi pembentukan sikapnya terhadap objek yang bersangkutan.
E. Sikap dan Objek yang Perlu
Dinilai
Dalam
kegiatan pembelajaran, penilaian terhadap siap selain bermanfaat untuk
mengetahui faktor-faktor psikologi yang mempengaruhi pembelajaran, berguna juga
sebagai feedback pengembangan
pembelajaran.[15]
Secara
umum, penilaian sikap dalam berbagai mata pelajaran dapatdilakukan berkaitan
dengan berbagai objek sikap sebagai berikut :
·
Sikap terhadap mata pelajaran.
·
Sikap guru terhadap mata
pelajaran
·
Sikap terhadap proses
pembelajaran
·
Sikap terhadap materi dari
pokok-pokok bahasan yang ada
·
Sikap berhubungan dengan
nilai-nilai tertentu yang ingin ditanamkan dalam diri siswa melalui materi
tertentu.
·
Sikap berhubungan dengan
kompetensi afektif lintas kurikulum[16]
F.
Tindak Lanjut
Hasil
penilaian sikap perlu dimanfaatkan dan ditindaklanjuti. Hasil pengukuran dan
penilaian sikap siswa dalam kelas, tujuan utamanya bukanlah untuk dilaporkan
dalam bentuk angka, seperti nilai penguasaan pengetahuan (domain kognitif) atau
keterampilan (domain psikomotor). Manfaat utama pengukuran dan penilaian sikap
adalah untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi peningkatan
profesionalisme guru, perbaikan proses pembelajaran dan pembinaan sikap siswa.
Secara terperinci, hasil pengukuran dan penilaian sikap dalam kelas dapat
dimanfaatkan untuk hal-hal sebagai berikut :[17]
·
Pembinaan sikap siswa, baik
secara pribadi maupun klasikal, perlu memperhatikan teori pembentukan dan
perubahan sikap. Sebagian dari teori itu telah dijelaskan pada bagian awal dari
naskah pedoman ini.
·
Perbaikan proses pembelajaran,
misalnya secara umum siswa menunjukkan sikap negatif terhadap pokok bahasan
atau mata pelajaran tertentu. Ada kemungkinan siswa belum dapatmenyerap dengan
benar materi pelajaran dan belum dapat memahami dengan benar konsep-konsepnya.
Oleh karena itu, siswa belum dapat mempersiapkan dengan benar tentang objek
sikap pokok bahasan atau mata pelajaran sebagai yang dinyatakan, sehingga
memberi respon negatif dalam memberi jawaban. Dalam hal ini, guru perlu
mengkaji lebih mendalam dan mungkin perlu memberikan perhatian khusus dan
penekanan-penekanan tertentu dalam proses pembelajaran.
·
Peningkatan profesionalitas
guru. Hasil pengukuran dan penilaian sikap dapat dimanfaatkan pula dalam rangka
pembinaan profesionalisme guru. Berdasarkan hasil pengukuran dan penilaian
sikap, guru dapat memperoleh informasi tentang kekuatan dan kelemahan yang
dimilikinya berdasarkan persepsi siswa. Informasi tersebut sangat bermanfaat
dalam rangka melakukan upaya-upaya perbaikan dan peningkatan kualitas pribadi
dan kemampuan profesional guru.
G. Cara-Cara Menilai Perilaku
Menurut Ahmadi (2007), sikap
adalah kesiapan merespon yang bersifat positif atau negatif
terhadap objek atau situasi secara konsisten. Pendapat ini memberikan gambaran
bahwa sikap merupakan
reaksi mengenai objek atau situasi yang relatif stagnan yang disertai
dengan adanya perasaan tertentu dan memberi dasar
pada orang tersebut untuk
membuat respon atau perilaku dengan cara tertentu yang dipilihnya[18].
Skinner seorang ahli psikologi juga merumuskan
bahwa perilaku atau sikap merupakan respons atau reaksi seorang terhadap
stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui
proses adanya stimulus terhadap organisme dan kemudian organisme tersebut
merespons[19].
Salah satu aspek yang sangat
penting guna mempelajari Sikap
dan perilaku manusia adalah masalah pengungkapan (assessment) atau pengukuran
(measurement) Sikap. Berbagai
teknik dan metode telah dikembangkan oleh para ahli guna mengungkap sikap
manusia dan memberikan interprestasi yang valid. Terdapat beberapa metode pengungkapan
(mengukur) sikap,
diantaranya:
1.
Observasi Perilaku
Untuk mengetahui sikap
seseorang terhadap sesuatu dapat diperhatikan melalui perilakunya, sebab
perilaku merupakan salah satu indikator sikap individu.
2.
Pertanyaan Langsung
Ada dua asumsi yang
mendasari penggunaan metode pertanyaan langsung guna mengungkapkan Sikap. Pertama, asumsi bahwa individu
merupakan orang yang paling tahu mengenai dirinya sendiri. Kedua, asumsi
keterusterangan bahwa manusia akan mengemukakan secara terbuka apa yang
dirasakannya. Oleh karena itu dalam metode ini, jawaban yang diberikan oleh
mereka yang ditanyai dijadikan indikator Sikap mereka. Akan tetapi, metode ini akan menghasilkan ukuran
yang valid hanya apabila situasi dan kondisinya memungkinkan kabebasan
berpendapat tanpa tekanan psikologis maupun fisik.
3.
Pengungkapan Langsung
Pengungkapan
langsung (directh assessment) secara tertulis dapat dilakukan dengan
menggunakan item tunggal maupun dengan menggunakan item ganda.
4.
Skala Sikap
Skala Sikap (attitude scales) berupa
kumpulan pernyataan-pernyataan mengenai suatu objek Sikap. Salah satu sifat skala Sikap adalah isi pernyataannya yang dapat berupa pernyataan
langsung yang jelas tujuan pengukurannya akan tetapi dapat pula berupa
pernyataan tidak langsung yang tampak kurang jelas tujuan pengukurannya bagi
responden.
5.
Pengukuran Terselubung
Dalam metode
pengukuran terselubung (covert measures), objek pengamatan bukan lagi perilaku
yang tampak didasari atau sengaja dilakukan oleh seseorang melainkan
reaksi-reaksi fisiologis yang terjadi di luar kendali orang yang bersangkutan[20].
Penggunaan skala sikap mengambil dari
teknik-teknik yang telah dikembangkan, namun yang paling praktis dan murah
diimplementasikan adalah Skala Diferensiasi Semantik (Semantic Differential Technique). Teknik ini dapat digunakan pada
berbagai bidang, dan teknik ini sederhana dan mudah diimplementasikan dalam
pengukuran dan skala sikap di kelas. Langkah-langkah pengembangan skala dengan
teknik ini sebagai berikut:[21]
·
Menentukan objek sikap yang
akan dikembangkan skalanya, misalnya “Mata Pelajaran Bahasa Inggris”
·
Memilih dan membuat daftar dari
konsep dan kata sifat yang relevan dengan objek penilaian sikap. Misalnya
menarik; penting; menyenangkan; mudah dipelajari; dan sebagainya.
·
Memilih kata sifat yang tepat
dan akan digunakan dalam skala
·
Menentukan rentang skala
pasangan dan penskorannya
H. Contoh Pengukuran
Penilaian Ranah Afektif
Kompetensi siswa dalam ranah afektif yang perlu
dinilai utamanya menyangkut sikap dan minat siswa dalam belajar. Secara teknis
penilaian ranah afektif dilakukan melalui dua hal yaitu:
a)
Laporan diri oleh siswa yang biasanya
dilakukan dengan pengisian angket
anonim.
b)
Pengamatan sistematis oleh guru
terhadap afektif siswa dan perlu lembar
pengamatan.
Skala yang sering digunakan dalam instrumen (alat) penilaian afektif adalah
Skala Thurstone, Skala Likert, dan Skala Beda Semantik.
Contoh
Skala Thurstone: Minat terhadap pelajaran Bahasa Inggris
7
|
6
|
5
|
4
|
3
|
2
|
1
|
|
Saya senang belajar Bahasa Inggris
|
|||||||
Pelajaran Bahasa Inggris
bermanfaat
|
|||||||
Pelajaran Bahasa Inggris
membosankan
|
1. Pelajaran
Bahasa Inggris bermanfaat
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
2. Pelajaran
Bahasa Inggris sulit
|
||||
3. Tidak
semua harus belajar Bahasa Inggris
|
||||
4. Sekolah
saya menyenangkan
|
Keterangan:
SS : Sangat setuju
S : Setuju
TS : Tidak setuju
STS : Sangat tidak setuju
Contoh
Lembar Penilaian Diri Siswa
Minat
Membaca
Nama
Pembelajar:_____________________________
No
|
Deskripsi
|
Ya/Tidak
|
1
|
Saya lebih suka membaca
dibandingkan dengan melakukan hal-hal lain
|
|
2
|
Banyak yang dapat saya ambil
hikmah dari buku yang saya baca
|
DAFTAR PUSTAKA
Haryati, Mimin. 2009. Model Dan
Teknik Penilaian Pada Tingkat Satuan
Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada Press.
Jaedun, Amat. Penilaian Ranah Afektif. ppt, (online), diakses
dari http://staffnew.uny.ac.id, diakses 17 April 2017.
Majid, Abdul. 2008. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mania,Sitti. 2012.Penantar Evaluasi Pengajaran. Makassar:
Alauddin University Press.
Muchlis Solichin,
Mohammad. 2012. Psikologi Belajar:
Aplikasi Teori – Teori Belajar Dalam Proses Pembelajaran. Yogyakarta: Suka
Press.
Popham , W.J.,
2012, Classroom Assessment, What Teachers
Need to Know, Boston: Allyn & Bacon.
Sudjana, Nana.
2006. Penilaian Hasil Proses Belajar
Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Syamsudduha, 2012, Penilaian Kelas, Makassar: Alaudddin
University Press.
Ahmadi, Abu. 2007.
Psikologi Sosial. Jakarta; Rineka Cipta.
Notoatmodjo,
Soekidjo. 2007.Ilmu Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Rineka Cipta:
Jakarta
Azwar,
Saifuddin. 2005. Sikap
Manusia Teori dan Pengukurannya.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
[1]Sitti Mania,
Pengantar Evaluasi Pengajaran,
Alauddin University:Makassar, 2012,
hal.32.
[2] Harianto, Penilaian Afektif, diakses dari http://hariantottakalary.blogspot.com, diakses 17 April 2017.
[3]Sitti Mania,
Pengantar Evaluasi Pengajaran,
Alauddin University Press, Makassar, 2012,
hal.32.
[4]Nana Sudjana,
Penilaian Hasil Belajar Mengajar, Remaja
Rosdakarya, Bandung, 2006, hal.29-30.
[5]Nana Sudjana, Penilaian
Hasil Proses Belajar Mengajar, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006, hal.29-30.
[6]Mohammad Muchlis Solichin, Psikologi Belajar : Aplikasi Teori-Teori Belajar Dalam Proses
Pembelajaran, Suka Press, Yogyakarta, 2012, hal.87.
[7] Harianto, Penilaian Afektif, diakses dari http://hariantottakalary.blogspot.com, diakses 17 April 2017.
[8]Popham , W.J.,Classroom
Assessment, What Teachers Need to Know, Allyn & Bacon, Boston, 2012,
hal: 229-230.
[9]Mimin Haryati, Model
Dan Teknik Penilaian Pada Tingkat Satuan Pendidikan, (Gaung Persada Press,
Jakarta), 2009, hal 62-63.
[11]Mimin Haryati, Model
Dan Teknik Penilaian Pada Tingkat Satuan Pendidikan, 2009, hal 62-63.
[12]Amat Jaedun, Penilaian
Ranah Afektif.ppt, diakses dari http://staffnew.uny.ac.id diakses
pada 17 April 2017.
[13]Abdul Majid, Perencanaan
Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), 2008, hal.212.
[15]Abdul Majid, 2008, Perencanaan Pembelajaran, hal 214.
[16]Abdul Majid, Perencanaan
Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), 2008, hal.215.
[17]Abdul Majid, Perencanaan
Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), 2008, hal.217.
[19]Notoatmodjo, Soekidjo. Ilmu Kesehatan dan Ilmu Perilaku. (Rineka
Cipta, Jakarta), 2007, hal. 133.
[20] Azwar,
Saifuddin, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. (Pustaka
Pelajar,
Yogyakarta), 2005, hal. 87-104.
[21]Abdul Majid, Perencanna
Pembelajaran, (Bandung : PT Remaja
Rosdakarya), 2008, hal.215.
[22]Sudjana, Nana, Penilaian
Hasil Proses Belajar, (PT. Remaja Rosdakarya Offset, Bandung). Hal. 216.
Posted by Nurhikmawati Mus
